Lebaran, Menteri Pertahanan Minta Pendukung Capres-Cawapres Bersatu, Tak Ada Lagi 01 dan 02

oleh

MENTERI Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengajak pendukung masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden, agar bersatu kembali.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah menjadi momentum bagi anak bangsa untuk bersatu di Bhinneka Tunggal Ika.

“Tidak lagi 01, 02. Yang ada bangsa Indonesia bersatu. Kalau 01, 02, kapan kita bersatunya?” kata Ryamizard Ryacudu, ditemui di Jakarta, Selasa (4/6/2019).

Dia merasa prihatin kepada kelompok masyarakat yang melampiaskan ketidakpuasan terhadap hasil Pemilu 2019, dengan cara melakukan aksi kerusuhan.

“Saya prihatin. (massa) lempar batu. Masa pesta demokrasi lempar-lemparan?” ujarnya.

Apabila terdapat kelompok masyarakat yang merasa tidak puas terhadap hasil Pemilu 2019, kata dia, dapat menempuh jalur yang sudah ditentukan oleh undang-undang.

Bagi peserta pemilu yang kalah pada saat pesta demokrasi rakyat itu, dapat mengajukan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Pemilu sudah selesai. Tidak pakai gituan (kerusuhan) lagi. Kalau misalnya salah satu pihak kurang puas, mengklaim ada kecurangan dan lain-lain. Bawa (bukti), tunjukkan,” tuturnya.

Dia mengharapkan agar insiden kerusuhan seperti pada 22 Mei lalu tidak terulang kembali.

“Mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Ke depan, saya harap tidak terjadi lagi” harapnya.

Ryamizard Ryacudu menuturkan, Indonesia merupakan negara berlandaskan hukum.

Untuk itu, dia meminta aparat penegak hukum melakukan penegakan hukum, didasarkan pada alat bukti yang kuat.

“Negara ini negara hukum, jadi panglima tertinggi, hukum. Hukum itu panglima tertinggi, harus patuh
pada hukum,” tegasnya.

Setelah pengumuman hasil rekapitulasi tingkat nasional oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 21 Mei 2019, muncul aksi unjuk rasa yang menolak hasil pesta demokrasi rakyat tersebut.

Aksi unjuk rasa berujung rusuh, sehingga aparat kepolisian menangkap sejumlah orang.

Dua orang di antaranya adalah purnawirawan TNI, Kivlan Zen dan Soenarko.

Dia meminta agar proses hukum dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Apabila ditemukan dua alat bukti, katanya, maka dapat diproses. Tetapi jika tidak ditemukan minimal dua alat bukti, maka proses hukum dapat dihentikan.

“Apa yang ditangani polisi saya mendukung. Polisi akan melihat, mengkaji ini benar atau salah,” cetusnya.

Ryamizard Ryacudu merasa prihatin melihat dua rekannya tersebut. Namun, dia menegaskan, proses hukum harus tetap dilakukan ‘tanpa pandang bulu’.

“Saya prihatin. Jadi dua-duanya prihatin. Pertama, karena purnawirawan Kivlan, kakak angkatan saya. (Soenarko) adik angkatan saya. Harusnya tak boleh terjadi. Hukum adalah panglima, siapa pun anak bangsa, anak kecil sampai orang tua,” bebernya.

Sebelumnya, Ryamizard Ryacudu meyakini senjata api yang dimiliki mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko, tidak digunakan untuk membunuh.

Ia pun memperkirakan senjata api milik Soenarko bukan hasil penyelundupan dari luar negeri, tetapi hasil rampasan perang yang dahulu pernah ia jalani.

“Soenarko itu di bawah saya dua, tiga tahun. Berati lama dia sudah pengalaman di Papua, tim-tim Aceh segala macam. Dia punya senjata merampas ya, senjatanya rampasan,” ucap Ryamizard Ryacudu di Jakarta, Kamis (30/5/2019).

“Jadi kalau katanya mau membunuh pejabat, saya rasa jauhlah,” sambung mantan KSAD itu.

Ia meminta kepada semua pihak agar tidak khwatir, karena ancaman tersebut hanya sebatas gertakan sesaat.

“Kalau dongkol saya begini, entar saya gampar lu. Sampai berapa puluh tahun enggak saya gampar kok,” ucapnya.

“Saya tembak kepala dia. Udah berapa puluh tahun enggak ada saya tembak. Jangan terlalu khawatir,” sambungnya.

Ia berharap sesama anak bangsa tidak ada lagi keributan dalam menjalani pesta demokrasi ini.

“Kalau kita ribut ada yang ikut dompleng, siapa lagi, ya yang radikal-radikal itu, yang merasa anti-Pancasila pasti di sana. Ini yang perlu kita waspadai dan bangkit,” tuturnya.

Ryamizard Ryacudu juga mengimbau semua pihak tetap menjaga situasi Tanah Air tetap kondusif, setelah menjalani pesta demokrasi lima tahun sekali.

“Kita ini sudah sering mengadakan pesta demokrasi. Pesta sudah berakhir dan itu sudah salam-salaman, tapi apa yang terjadi? Ketidakpuasan biasa,” papar Ryamizard Ryacudu.

Menurutnya, pihak yang tidak puas dengan hasil penghitungan suara Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), agar melakukan pengaduan ke jalur yang telah ditentukan secara bersama, baik ke Bawaslu, KPU, maupun Mahkamah Konsitusi.

“Itu semuanya dipilih berdasarkan kesepakatan bersama. Ada 01, ada 02, tidak ada masalah,” katanya.

Ryamizard Ryacudu meminta agar tidak ada lagi kerusuhan seperti pada 21-22 Mei 2019, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian ekonomi.

“Akan ada kerusuhan lagi nanti Juni, akan lebih besar dari kemarin. Itu pernyataan kurang baik. Mari kita antisipasi. Saya mengajak semua pihak, terutama yang tidak puas, untuk tidak melakukan apa-apa,” imbaunya.

Bila terjadi kerusuhan kembali, kata Ryamizard Ryacudu, yang mengalami kerugian dan kesusahan itu bukan dari capres 01 maupun 02, tetapi rakyat yang jadi korbannya.

“Kedua belah pihak harus berdoa untuk mereka. Dengan itu peringatan, ya sudahlah enggak usah lagi ditambah untuk yang meninggal ini,” ajaknya.

Sebelumnya, Ryamizard Ryacudu juga menyatakan tidak begitu yakin ada kelompok yang benar-benar ingin membunuh empat pejabat negara.

Menurutnya, rencana pembunuhan pada kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019 lalu itu hanya omongan belaka, hanya gertakan semata.

“Saya rasa enggak begitulah. Masa sesama anak bangsa begitu? Mungkin hanya ngomong saja,” kata Ryamizard Ryacudu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Ryamizard Ryacudu merasa ancaman pembunuhan itu tidak terlepas dari dinamika politik.

“Misalnya kita ngomong, nanti gua gebukin lu, kan belum tentu gebukin. Ya kita tahulah yang namanya politik kan memang begitu,” tuturnya.

Ryamizard Ryacudu berharap permasalahan yang terjadi seusai Pemilu serentak 2019, bisa segera selesai dan tidak berlarut-larut.

Sebab, semua pihak sangat tidak menginginkan kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei lalu kembali terulang, karena membuat masyarakat menjadi sulit beraktivitas.

“Tidak boleh terjadi, saya tidak suka terjadi kerusuhan. Mudah-mudahan enggak lah, cukup kemarin itu ya,” paparnya. (*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!