Kehadiran Mohamed Salah Menurunkan Tingkat Islamophobia di Liverpool

oleh

Sebagian warga kota Liverpool masih bersuka ria, setelah salah satu klub sepak bola di kota itu, Liverpool, menjuarai kompetisi Liga Champions musim 2018-2019.

Para pendukung The Reds, begitu julukan bagi Liverpool, sepakat bahwa kesuksesan tim kesayangan mereka adalah berkat kehadiran Mohamed Salah di Liverpool.

Begitu pesepak bola berkebangsaan Mesir ini bergabung, di awal musim 2017-2018, performa Liverpool langsung meningkat pesat.

Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan The Reds menembus final Liga Champions musim itu, meski pun akhirnya kalah oleh Real Madrid.

Itu pun juga karena Salah dicederai bek Madrid, Sergio Ramos, sehingga harus ditarik keluar.

Pada musim itu, Salah juga menjadi pencetak go terbanyak di Liga Inggris, dengan 32 gol.
Mohamed Salah mencium trofi Golden Boot, setelah emncetak 32 gol di Liga Inggris musim 2017-2018.

Mohamed Salah mencium trofi Golden Boot, setelah emncetak 32 gol di Liga Inggris musim 2017-2018. (Instagaram/mosalah)

Musim ini, pesepak bola berusia 26 tahun itu kembali menjadi pencetak gol terbanyak di Premier League, meski pun jumlah golnya menurun jauh menjadi 22 saja.

Itu pun dia harus berbagi gelar dengan rekan satu klub, Sadio Mane, dan striker Arsenal, Pierre Emerick Aubameyang.

Biar begitu, Salah tetap menjadi idola masyarakat Liverpool yang mendukung The Reds.

Ternyata, bukan itu saja sumbangan Salah kepada kota Liverpool. Pemain ini ternyata berpengaruh besar dalam menurunkan tingkat Islamophobia di kota pelabuhan tersebut.

Islamophobia adalah sebutan untuk tindakan membenci agama Islam dan masyarakat Muslim.

Sebagaimana dilansir Daily Mail, sebuah penelitian digelar oleh Stanford University Immigration Policy Lab menemukan bahwa tingkat kriminalitas karena rasisme (hate crimes) di Liverpool menurun drastis, sejak Salah bergabung dengan Liverpool.

Selama dua tahun ini, jumlah hate crimes menurun 18,9 persen, di kota di tepi Sungai Mersey tersebut.

Para peneliti melihat ada kaitan antara prestasi Salah dengan hasil penelitian mereka itu, sehingga mereka sepakat bahwa Mohamed Salah adalah penyebab penurunan tersebut.

Bukti lain yang ditemukan, jumlah kicauan yang bernada anti-Muslim juga berkurang, di antara fan Liverpool. Penurunannya cukup signifikan, sampai 53 persen.

Angka tersebut ditemukan, setelah para peneliti membandingkan 15 juta cuitan dari para pencinta sepak bola di Inggris, sebelum dan sesudah Salah menjadi pemain Liverpool.

“Kami memperkirakan, situasi ini terjadi karena sekarang masyarakat Inggris lebih mengenal Islam,” tulis para peneliti di laporan riset mereka.

Temuan ini, imbuh mereka, membuktikan bahwa selebritas sangat berperan besar dalam mengubah persepsi masyarakat.

Jika selebritas dari kelompok minoritas memiliki perilaku positif dan berprestasi di masyarakat secara luas, maka persepsi masyarakat kepada kelompoknya menjadi lebih positif.

Sebagai penganut agama Islam, Salah selalu mempraktikan ajaran agamanya di dalam mau pun di luar lapangan. Salah satunya adalah, dia selalu bersujud setiap kali mencetak gol.

Sujud adalah bentuk terima kasihnya kepada Allah SWT, karena diberikan kesempatan mencetak gol.
Mohamed Salah merayakan golnya dengan sujud syukur.

Mohamed Salah merayakan golnya dengan sujud syukur. (The Conversation)

Salah juga diketahui selalu mengucapkan kalimat Syahadat di lapangan, dengan jari telunjuk menunjuk ke langit.

Pesepak bola ini juga selalu memperkenalkan Islam kepada masyarakat, dalam wawancara dengan media massa atau postingan di media sosial.

Contohnya, dia memuat foto sedang buka puasa Ramadan di Instagram, dan menulis penjelasan soal puasa secara panjang lebar.

Salah juga memberi tahu penggemarnya soal nama anaknya, Makka, yang diambil dari nama kota Mekah, yang merupakan kota suci bagi umat Muslim.

Menurut para peneliti, Salah menunjukkan wajah Islam yang berbeda dengan Islam yang diketahui masyarakat Inggris selama ini.

Islam yang ditampilkan Salah adalah Islam yang bersahabat dan mau berkumpul dengan masyarakat Inggris kebanyakan.

Istri Salah, Magi, mengenakan hijab, namun mau duduk di pinggir lapangan di Stadion Anfield, bersama para istri pemain Liverpool lainnya.

Hal ini jauh berbeda dari imaji Islam yang diketahui masyarakat Inggris. Selama ini mereka melihat Islam dari warga Inggris keturunan Pakistan.

Kelompok masyarakat itu cenderung eksklusif, alias tidak mau berbaur dengan masyarakat Inggris lainnya.

Mereka juga kerap menuntut pemberlakuan hukum yang berbeda untuk kelompok mereka.

Perilaku seperti inilah yang semakin memperparah Islamophobia di Inggris.

Penelitian yang dilakukan Stanford University Immigration Policy Lab ini dilaksanakan pada Oktober 2018 sampai Januari 2019.

Mereka menggunakan media sosial Facebook untuk melakukan jajak pendapat. Sasaran mereka adalah warganet yang menyukai (like) halaman Liverpool FC di Facebook. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!