Suami dan Anak Tersangka Pemasok Senjata Jadi Penjamin Agar Tidak Ditahan

oleh

Asmaizulfi alias AF alias Fifi (53), satu dari 6 tersangka yang diduga merencanakan pembunuhan terhadap 4 Jenderal Purnawirawan yang juga pejabat negara nasional, sudah mengajukan penangguhan penahanan ke kepolisian.

Fifi dan lima tersangka lainnya dalam kasus ini, ditahan polisi dan mendekam di tahanan Mapolda Metro Jaya.

Fifi adalah satu-satunya perempuan dari 6 tersangka yang dituding merencanakan pembunuhan terhadap 4 pejabat negara nasional.

Istri dari Mayjen (Purn) Moerwanto itu disebut sebagai broker atau penyuplai satu pucuk senjata api ke eksekutor rencana pembunuhan itu.

Ia diamankan di Bank BRI di Jalan MH Thamrin, Jumat (24/5/2019).

Fifi merupakan Ketua Gempur (Gerakan Emak-emak Peduli Rakyat), organisasi sayap pendukung Prabowo-Sandi.

Kuasa Hukum Fifi, Unggul menuturkan bahwa pengajuan penangguhan penahanan atas Fifi sudah resmi dilayangkan pihaknya ke penyidik pada Sabtu (25/5/2019) lalu, atau sehari setelah Fifi diamankan polisi.

“Bahwa memang benar pada tanggal 25 Mei 2019 kami selaku kuasa hukum maupun keluarga, telah mengajukan permohonan penangguhan penahanan atas tersangka, yang ditujukan kepada Kepala Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya Cq Direktur Reserse Kriminal Umum. Namum sampai saat ini belum ada jawaban,” kata Unggul kepada Warta Kota, Senin (3/6/2019).

Menurut Unggul dalam penangguhan penahanan itu, keluarga Fifi sebagai penjaminnya.

“Jaminannya keluarga tersangka. Yakni suami dan anak anak,” kata Unggul.

Sebelumnya terkait pengajuan permohonan penangguhan penahanan itu dikatakan Bayu Putra Harvianto (28) anak pertama Fifi, kepada Warta Kota, Minggu (2/6/2019).

“Rencana pengajuan penangguhan penahanan ada. Tapi semua urusan itu dilakukan pengacara,” kata Bayu.

Karenanya Bayu mengaku tak tahu kapan pengajuan penangguhan penahanan dilayangkan ke Polda Metro Jaya.

Bayu yang mengaku sudah menjenguk ibunya yang ditahan di tahanan Mapolda Metro Jaya, mengatakan ibunya sangat yakin bisa membuktikan tidak terlibat dalam rencana pembunuhan itu.

“Iya, Ibu yakin bisa buktikan kalau dia tidak terlibat rencana pembunuhan itu,” kata Bayu.

Namun Bayu tak menjelaskan bukti apa yang dimiliki ibunya yang membuat yakin bisa bebas dari tuduhan.

Karena keyakinan ibunya itulah, saat Bayu menjenguk di tahanan, sang ibu selalu tersenyum.

“Ibu senyum aja. Ga sedih, malah ibu lebih kuat dari anak-anaknya, kita yang nangis. Ibu memganggap ini cobaan yang bisa dilewati. Ibu pesan ke kita anak-anaknya, bahwa ini cobaan, dan ibu tidak pernah ada rencana buat pembunuhan. Cuma senjata itu memamg betul digadai tahun 2017 atau 2018. Tapi ibu tidak pernah tahu ada rencana seperti itu,” papar Bayu saat ditemui Warta Kota di rumahnya di Kompleks Zeni AD, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019).

“Intinya ibu ikhlas ngejalanin ini. Dan kita sekeluarga juga yakin ibu akan bisa lewati semua permasalahan ini. Dan dengan adanya masalah ini saya sekeluarga lebih kuat,” kata Bayu.

Di tahanan Mapolda Metro kata Bayu, ibunya sekamar dengan tersangka kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

“Sebelumnya mereka rekan dan sering komunikasi,” kata Bayu.

Bayu mengaku sebagai Ketua Gempur, ibunya memang cukup dekat dengan sejumlah tokoh pendukung Prabowo-Sandi, termasuk Ratna Sarumpaet, tersangka kasus hoaks yang kini ditahan Mapolda Metro Jaya.

“Ibu juga cukup dekat dengan Kivlan Zein, Habib Husen dan mungkin juga dengan Prabowo. Karena ayah saya kan juga Mayjen Purnawirawan,” kata Bayu.

Meski begitu ia membantah ibunya turut serta merencanakan pembunuhan terhadap 4 pejabat negara.

Apalagi kata dia bukti itu hanya berdasar atas tudingan bahwa ibunya menjual senjata api revolver taurus ke salah satu tersangka lainnya.

“Padahal ibu saya menggadaikan senjata api milik rekan ayah itu karena sedang butuh uang,” kata Bayu.

Selain itu kata Bayu, ibunya tak tahu senjata itu akan dipergunakan untuk apa oleh HK alias Iwan salah satu tersangka lainnya.

Gadai Senjata Api

Bayu mengatakan ia dan ketiga adiknya serta semua keluarganya sama sekali tidak percaya ibunya ikut serta merencanakan pembunuhan ke 4 pejabat negara bersama para tersangka lainnya.

“Saya sama adik-adik dan semua keluarga sangat percaya ibu gak akan merencanakan pembunuhan pada siapapun. Sebab ibu saya memang gak tahu soal itu. Pada kasus ini ibu saya bisa tersangkut, karena sebenarnya cuma masalah utang piutang saja sama Iwan, salah satu tersangka lain. Ibu sya pinjam uang ke Iwan dan jaminannya yang diminta senjata itu, pemberian rekan ayah saya,” papar Bayu saat ditemui Warta Kota di rumahnya di Komplek Zeni AD, Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019).

Bayu juga menyayangkan pemberitaan dan informasi yang beredar bahwa seakan-akan ibunya benar-benar turut serta merencanakan pembunuhan.

“Seolah-olah di media, ibu saya nyediain senjata dan nyuruh mereka tembak nih bunuh. Padalah tidak. Ibu saya gak tahu senjata yang digadaikannya ke Iwan mau dipakai untuk apa,” kata Bayu.

Dalam BAP kepolisian saat ibunya diperiksa polisi, kata Bayu ibunya juga menerangkan ketidaktahuannya soal rencana pembunuhan dan sudah tertulis.

“Ibu saya gak tahu senjata buat diapain. Di BAP ibu bilang gak tahu menahu soal rencana pembunuhan” kata Bayu.

Bahkan dari keterangan para penyidik Polda Metro Jaya, kata Bayu ketidaktahuan ibunya soal rencana pembunuhan adalah wajar.

“Di Polda kan ada juga beberapa teman ibu. Mereka sama sekali kaget dan gak percaya kalau ibu saya dibilang ikut merencanakan pembunuhan,” kata Bayu.

Bayu memaparkan awalnya senjata api Revolver Taurus kaliber 8 itu adalah pemberian rekan ayahnya yang cukup lama disimpan di Gedung Cawang Kencana, Jakarta Timur.

Disana ayahnya berkantor sebagai ketua yayasan pengelola gedung dan juga sempat menjabat Sekjen Depsos.

“Lalu senjata itu menjadi jaminan utang ibu Rp 25 Juta ke Iwan, atau digadai. Karena saat itu ibu butuh uang untuk mempertahankan Gedung Cawang Kencana yang sedang sengketa kepemilikan dengan Kemensos,” kata Bayu.

Bayu mengatakan saat ayahnya divonis kasus korupsi Gedung Cawang Kencana di Jakarta Timur dan mendekam di LP Sukamiskin sejak 2014, keadaan ekonomi keluarganya menjadi cukup sulit.

“Sementara ibu butuh uang untuk mempertahankan Gedung Cawang Kencana yang sedang sengketa dengan Kemensos,” kata Bayu.

Sebab menurut ibu gedung itu adalah milik yayasan yang dikelola ayah saya. Sementara Kemensos mengklaim milik negara karena dibangun saat ayah saya menjabat Sekjen di Kemensos.

“Karena butuh uang, ibu saya cari pinjaman. Lalu ada namanya Pak Andi. Pak Andi ini teman ibu-ibu di gerakan Gempur yang dipimpin ibu saya. Pak Andi lalu mengenalkan ibu saya ke Pak Iwan yang katanya bisa meminjamkan uang Rp 25 Juta,” kata Bayu.

Iwan belakangan adalah HK salah satu tersangka dugaan kasus perencanaan pembunuhan 4 pejabat negara.

Setelah berkenalan dengan Iwan yang bersedia meminjamkan uang Rp 25 Juta ke ibunya, kata Bayu, Iwan sempat bertanya ke Andi, apa jaminan untuk uang pinjaman itu.

“Karena Pak Andi adalah teman ibu, Pak Andi sempat bilang kalau jaminannya badan dia,” kata Bayu.

Namun kemudian tambah Bayu, Iwan menawarkan dan meminta senjata suami AF sebagai jaminannya. “Iwan ini kan mantan Kopassus. Dia tahu bapak purnawirawan dan akhirnya bilang ke Andi agar senjata itu sebagai jaminan utang ibu,” kata Bayu.

“Akhirnya sepakatlah meeeka senjata itu yang digadikan sebesar Rp 25 juta,” kata Bayu.

Ibunya kata Bayu akhirnya menyerahkan senjata yang disimpan di Gedung Cawang Kencana ke Iwan. “Menurut ibu saya, diserahkannya ke Iwan antara 2017 atau 2018,” kata Bayu.

Senjata itu kata Bayu adalah pemberian rekan ayahnya yang selama ini disimpan di Gedung Cawang Kencana.

Sementara ayahnya sudah bebas menjalani hukuman karena tuduhan korupsi dari LP Sukamiskin 2018 lalu.

“Intinya ibu saya gak tahu senjata itu mau digunakan untuk apa oleh Iwan. Ibu saya tahunya hanya pinjam uang dan senjata itu jadi jaminannya,” kata Bayu.(bum) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!