Sandiaga Uno Bertemu Idolanya di New York Hingga Didoakan Sukses Dunia-Akhirat, Siapa Dia?

oleh

Kali ini, cawapres nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno atau Sandiaga Uno merayakan lebaran di Amerika Serikat.

Diketahui, Sandiaga Uno bertemu idolanya di New York, yakni Muhammad Shamsi Ali atau akrab disapa Imam Shamsi Ali.

Ketika itu, Imam Shamsi Ali pendukung Prabowo-Sandi itu senang bertemu dengannya, hingga Imam Shamsi Ali doakan Sandi Uno sukses dunia-akhirat.

Sebelumnya, Calon wakil presiden Sandiaga Uno memilih merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah di Amerika Serikat.

Sandiaga Uno berlebaran di luar negeri karena anak-anaknya tidak bisa pulang ke Indonesia.

“Saya kebetulan berlebaran di Amerika Serikat, karena Amyra enggak libur, karena mengambil summer school, dan Atheera magang di sana sehingga tidak bisa pulang,” ungkap Sandiaga Uno di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019).

Sandiaga Uno mengaku akan berangkat ke AS pada Jumat (31/5/2019) besok. Ia akan kembali dua atau tiga hari setelah Lebaran.

“Di sana (Amerika) juga rencananya bertemu rekan-rekan Indonesia yang sudah janjian, serta sejumlah relawan,” katanya.

Kepergiannya ke luar negeri, menurut Sandiaga Uno, bergantian dengan Prabowo Subianto.

Saat ini Prabowo Subianto sedang berada di luar negeri untuk keperluan pribadinya.

“Info dari beliau disampaikan seperti itu, karena saya bilang saya tidak akan berlebaran di sini (Indonesia), jadi nanti akan bergantian. Begitu saya pergi, Pak Prabowo akan kembali,” jelanya.

Sandiaga Uno juga memastikan Prabowo Subianto akan merayakan Idul Fitri di Indonesia.

Menurut Sandiaga Uno, informasi tersebut diketahui dari Prabowo Subianto langsung, sebelum bertolak ke luar negeri.

Namun, Sandiaga Uno mengaku tidak tahu apakah Prabowo Subianto akan menggelar open house atau tidak saat Lebaran nanti.

“Nanti bisa dicek (tanyakan) sama Pak Prabowo,” ucapnya.

Menurutnya, Prabowo Subianto saat ini sedang berada di luar negeri untuk keperluan pribadi.

Prabowo Subianto kemungkinan akan kembali ke Indonesia, pada Ahad mendatang.

“Dia bilang 3-4 hari, jdi mungkin Hari Minggu, mungkin dalam waktu tiga hari dari sekarang,” terangnya.

Bertemu Idola di New York

Diketahui, Sandiaga Uno bertemu idolanya di New York.

Rupanya, sosok idola Sandiaga Uno di New York yakni Muhammad Shamsi Ali alias Imam Shamsi Ali atau dieja Syamsi Ali.

Momen pertemuan Sandiaga Uno dan Imam Shamsi Ali di New York, diunggah melalui akun instagramnya di @sandiuno, Sabtu (1/6/2019).

Senangnya bisa berjumpa kembali dengan Imam Syamsi Ali, Imam di Islamic Cultural Center (ICC), Masjid terbesar di New York. Tadi di malam ke-27 Ramadhan kami beri’tikaf bersama di Masjid Ar-Rahman di Kota New York.

Di antara umat Islam Indonesia yang tinggal di Amerika, Imam Syamsi Ali dikenal sebagai salah seorang anggota dewan penasihat di organisasi-organisasi besar, seperti Indonesian Muslim Society in America dan Indonesian Muslim Intellectual Society in America.

Ia pun menyebarkan paham demokrasi, dan aktif mempromosikan keberagaman pada anggota dewan dan bahkan untuk FBI (Federal Bureau of Investigation). Saya, Imam Syamsi Ali, dan seluruh umat Muslim yang ada di sini punya satu tekad, yaitu menunjukan kepada Amerika dan dunia tentang ajaran Islam yang sebenarnya, yakni Islam yang Rahmatan Lil Alamin.” tulis Sandiaga Uno di akun instagramnya.

Simak video unggahan Sandiaga Uno saat bertemu sang idola

Pendukung Prabowo Sandi

Seorang pendukung Prabowo bangun pesantren di Amerika.

Diketahui, pendukung Prabowo dirikan pesantren di Amerika ini, akan menjadi pesantren pertama dan terbesar di Amerika Serikat.

Lalu, siapa pendukung paslon 02 pendiri pesantren di Amerika? Ya, dia ialah Muhammad Shamsi Ali atau dikenal Imam Shamsi Ali pendukung Prabowo-Sandi.

Diketahui, Shamsi Ali bangun pesantren khas Indonesia di Connecticut Amerika Serikat yang melalui Nusantara Foundation.

Berikut, 7 alasan Shamsi Ali dukung Prabowo-Sandi.

WartaKotaLive melansir Timur, sebelumnya secara terbuka Ustaz Muhammad Shamsi Ali (51) nyatakan dukungannya kepada pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Sikapnya kali ini berbeda saat Pilpres 2014 lalu. Kala itu, alumnus Pesantren Darul Arqam Gombara, Makassar, ini terang-terang mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Lalu apa alasannya berpindah?

Melalui tulisannya berjudul Kampanye Bersejarah Prabowo-Sandi, imam Islamic Cultural Center (ICC), masjid terbesar di New York, Amerika Serikat, ini membeberkan ada 7 alasan utamanya.

Tulisan tersebut ditulis cendekiawan Muslim kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan, di pesawat dalam perjalanan Jakarta-Makassar usai menghadiri kampanye akbar Prabowo-Sandi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4/2019).

Nah ke-7 alasan Imam Shamli Ali tersebut yang tercantum dalam tulisannya di bawah ini:

Kampanye Bersejarah Prabowo-Sandi

Oleh: Shamsi Ali

Hari Minggu, 7 April 2019 nampaknya adalah salah satu hari yang bersejarah di bumi Nusantara.

Konon kabarnya kegiatan kampanye pasangan Prabowo Sandi hari itu menjadi kampanye terakbar (terbesar) dalam sejarah negeri ini.

Kebetulan pula saya sedang berada di tanah air. Dan keberadaan saya itu didengar pula oleh teman-teman penyelenggara kampanye akbar itu.

Maka sayapun mendapat kehormatan untuk hadir. Bahkan dijadwalkan untuk ikut memberikan orasi dalam kampanye terbuka itu.

Sehari sebelum kampanye saya berada di kampung halaman, Makassar.

Di Makassar sendiri saya mengisi beberapa acara, di antaranya tablig akbar bersama Bapak Tamsil Linrung.

Beliau saat ini sedang berupaya untuk pindah dari posisi sebagai anggota DPR RI menjadi anggota DPD pemilihan daerah Sul-Sel.

Selain itu saya juga kembali mendapat kehormatan memberikan ceramah hikmah Isra’ Mi’raj dalam rangka Harlah Muslimat NU ke 73 di Universitas Islam Makassar.

Kegiatan ini sendiri memiliki makna spesial bahwa masanya umat ini mampu keluar dari batas-batas sempit itu ke wilayah yang lebih luas.

Artinya sebagai tamatan pesantren Muhammadiyah dan kader Muhammadiyah saya tidak perlu sungkan dan ragu untuk hadir dalam acara-acara Nahdhotul Ulama.

Karena saya sadar bahwa keduanya, dan semua ormas Islam Ahlussunnah waljamaah memperjuangkan hal yang sama.

Yaitu lii’laa Kalimatil Haq. Untuk kemuliaan Islam dan umat dalam rangka menegakkan Kebenaran.

Mengejutkan sebagian kalangan

Kehadiran saya di kampanye Prabowo Sandi, apalagi berada di panggung kehormatan dan dijadwalkan untuk memberikan orasi, sudah tentu mengejutkan sebagian kalangan.

Pasalnya di pilpres yang lalu saya terbuka mendukung pasangan Jokowi-JK.

Keterkejutan itu tentu biasa dan alami. Ada beberapa penilaian yang selama ini dikaitkan dengan tokoh-tokoh di balik kampanye akbar itu.

Termasuk pemimpin FPI, Al-Habib Riziq Syihab dan tokoh-tokoh alumni 212.

Seolah mereka adalah tokoh-tokoh ekstrim, sementara saya adalah sosok moderat yang senang membangun kerjasama dengan komunitas non Muslim

Maka hadir di sebuah perhelata akbar yang dikomandoi oleh ulama-ulama dan Habaib 212 itu nampak seperti sesuatu yang paradoks.

Sebelum merespon keterkejutan-keterkejutan itu, saya juga ingin tegaskan bahwa keputusan saya untuk hadir di kampanye akbar Prabowo Sandi tidak sama sekali akan mengubah hubungan pertemanan dengan mereka yang memilih paslon lain.

Percayalah pilpres itu musiman. Ukhuwah dan kesatuan itu abadi.

Karenanya hubungan dan komunikasi dengan teman-teman yang memilih Paslon lain tetap terjaga. Beda pilihan itu disebabkan oleh perbedaan ijtihad politik yang berdasarkan penilaian-penilaian yang sangat manusiawi.

Alasan-alasan kehadiran dan dukungan

Keinginan saya untuk menyampaikan dukungan terbuka kepada Paslon Prabowo-Sandi bukan tiba-tiba.

Hanya saja memang kampanye akbar itu bersamaan dengan kedatangan saya di tanah air.

Dalam beberapa bulan terakhir saya melakukan pengamatan dan kajian, baik melalui ragam sumber maupun melalui teman-teman yang ada di kedua belah pihak.

Artinya saya memiliki hubungan dan komunikasi dengan kedua kubu paslon tersebut.

Setelah mempelajari dan mengamati secara dekat, baik substansi kampanye (misi dan misi) maupun karakter paslon, saya memutuskan untuk memberikan dukungan saya kepada paslon Prabowo-Sandi.

Berikut alasan-alasan itu:

1. Saya merasakan ketidakadilan dalam menilai dukungan ulama di kedua belah pihak.

Ketika sebagian ulama mendukung Prabowo-Sandi dengan serta merta dituduh politiisasi agama.

Tapi ketika sebagian lainnya mendukung paslon lain seolah itu dukungan yang wajar dan alami. Perlu digaris bawahi bahwa kedua paslon didukung oleh ulama-ulama umat ini.

2. Saya juga merasakan bahwa ada upaya sistimatis untuk menghalangi ulama umat ini untuk mengambil hak politiknya, sekaligus melakukan tanggung jawab amar ma’rufnya secara politik.

Seolah ketika ulama proaktif melakukan kegiatan politik maka itu politisasi agama.

Runyamnya tuduhan poltiisasi agama ini seringkali hanya dituduhkan kepada ulama Islam semata.

Padahal saya tahu tokoh-tokoh agama lain, khususnya teman-teman Kristiani, melakukan hal yang sama. Karenanya dengan dukungan ini saya tegaskan bahwa ini bukan politisasi agama.

Sebaliknya keterlibatan saya mengambil hak politik dan melakukan tanggung jawab agama saya.

3. Walau saya sudah lama hidup di luar negeri, hampir dua pertiga umur saya, tapi cinta dan perhatian saya kepada tanah air tidak pernah berkurang.

Sejujurnya saya mungkin termasuk salah satu anak bangsa yang cukup kecewa ketika negeri ini belum mampu menjadikan rakyatnya sebagai tuan di negerinya sendiri.

Negara besar yang kaya raya. Tapi takyat stagnan dalam kemiskinan.

Sementara itu ada kecenderungan jika potensi-potensi kekayaan negara semakin dibiarkan untuk dikuasai orang lain.

4. Di sisi lain, negara besar ini, besar dalam sejarah, besar potensi sumber daya manusia dan alam, besar dalam keragaman budaya dan agama, dan yang lebih khusus lagi negara berpenduduk terbesar Muslim dunia yang mampu mengawinkan antara Islam dan norma-norma dunia modern, seperti demokrasi, HAM, kesetaraan jender, dan lain-lain.

Sayangnya dengan segala kebesaran bangsa ini dunia kerap masih melihatnya sebelah mata.

Dalam penilaian saya, salah satu penyebabnya adalah kharisma dan kapabilitas kepemimpinan itu menjadi faktor utama.

Kasus terkecil adalah ketidakmampuan komunikasi pemimpinnya.

5. Selama ini dunia dibombardir dengan misinfomasi-misinformasi yang salah tentang saudara-saudara kami di tanah air.

Seringkali ketika merek berkumpul dengan Jumlah besar, seperti pertemuan 411, 212, dan lain-lain dicap sebagai kegiatan “intoleran”.

Padahal mereka berkumpul untuk mengekspresikan diri juga karena keyakinan mereka tentang demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Keterlibatan saya untuk menegaskan bahwa kegiatan ini adalah kebanggaan bangsa dan umat.

Karena bangsa ini adalah Muslim terbesar dunia tapi sekaligus punya komitmen demokrasi. Apalagi semuanya dilakukan dengan aman, damai dan penuh kesejukan.

6. Saya juga gerah dengan tuduhan-tuduhan seolah umat ini jika berkomitmen dengan agamanya berarti terjadi krisis loyalitas kepada negaranya.

Ada upaya sistimatis untuk membenturkan antara komitmen keagamaan dan kebangsaan umat.

Padahal NKRI, Pancasila dan UUD 45 adalah hadiah terbesar umat dan ulama-ulamanya.

Karenanya saya sebagai putra bangsa ingin menegaskan bahwa keterlibatan

Saya di acara yang dikomandoi oleh para ulama dan Habaib itu adalah bentuk komitmen kepada negara dan agama.

Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan di negara ini.

7. Saya juga memutuskan hadir dan mendukung pasangan Prabowo-Sandi karena saya melihat keduanya adalah pasangan calon yang sesuai dan saling melengkapi. Sosok Prabowo yang militer dengan keberanian dan ketegasannya didampingi oleh sosok muda yang pintar, visioner, sukses dan santun.

Saya menilai pasangan ini adalah pasangan yang sangat ideal dalam menjalankan roda pemerintahan ke depan.

Akhirnya sekali lagi saya tegaskan bahwa dukungan politik saya ini tidak sama sekali akan mengurangi intens komunikasi dan persahabatan dengan mereka yang kebetulan memiliki pilihan lain.

Mari belajar dewasa dalam berdemokrasi yang memang alaminya akan terjadi perbedaan pilihan.

Yang terpenting dari semua itu adalah perlunya kita semua membangun kesadaran bahwa siapapun kita dan apapun pilihan kita ada “common ground” (kesamaan) di antara kita.

Sebagai umat kesamaan kita adalah demi “izzah Islamiyah” (kemuliaan Islam dan umat).Dan sebagai bangsa tentu tidak lain adalah demi Indonesia Raya.

Harapan saya untuk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Sandiaga Uno periode mendatang dengan izin Allah, agar mereka merebut slogan Donald Trump: Making Indonesia Great Again.

Tapi untuk semua latar belakang suku, ras dan agama. Semoga!

Takbir…Merdeka!!!

Udara Jakarta-Makassar, 7 April 2019

Anak negeri di kota New York, AS.

Akan Bangun Pesantren Khas Indonesia Pertama dan Terbesar di Amerika Serikat

Nusantara Foundation Bangun Pesantren Khas Indonesia di Amerika

Nusantara Foundation akan bangun sebuah pesantren pertama di Connecticut Amerika.

Pembangunan pondok pesantren Nur Inka Nusantara Madani ini diperkenalkan oleh Imam Shamsi Ali di Hotel Grand Sahid Jaya, Jumat (24/5/2019)

Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali mengungkapkan, pesantren ini merupakan yang terbesar dan luas 7,5 ha.

Sehingga pesantren ini diharapkan dapat menjadi gaung Indonesia di dunia internasional dan islam

“Akan merupakan catatan sejarah Islam dunia di Amerika, kami mendirikan pesantren Indonesia, agar dari seluruh dunia bisa belajar agama di pesantren ini dan nama besar Indonesia tergandeng,” katanya.

Imam Shamsi Ali mengaku galau karena sebagai bangsa yang terbesar pemeluk agama islam namun dianggap sebelah mata.

“Alasan saya mendirikan pesantren, dan salah satu yang menggalaukan saya, bangsa dan negara besar ini kurang terdengar gaungnya di dunia internasional, termasuk di dunia Islam. Kita dilihat sebelah mata oleh dunia internasional dan dunia Islam padahal kita sebagai bangsa Islam terbesar didunia,” sebut Imam Shamsi Ali.

Melalui pesantren ini, ia ingin menyampaikan Islam yang sesungguhnya, yaitu islam yang rahmatan dan ilamin.

“Saya kira kita memiliki potensi untuk itu. Oleh sebabnya saya namakan proyek ini pesantren, karena ini adalah ciri khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain,” sambungnya.

Imam Shamsi Ali adalah lulusan S2 University islam Internasional di Islamabad, Pakistan.

Ia pernah menjadi guru di Arab Saudi selama dua tahun, dipenghujung pekerjaan sebagai guru ditawarkan oleh duta besar Indonesia di Amerika untuk menjadi imam di kota New York sejak tahun 1997

“Saya dibesarkan oleh peristiwa 9 September dimana sejak itu saya menjadi pembangun komunikasi semua umat beragama di New York, mengadakan dialog-dialog antar agama dan pemerintah Amerika Serikat, dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pemerintah kota sehingga ketika 911 terjadi saya diminta oleh komunitas muslim menjadi pembicara bahkan dalam dialog dengan presiden Bush saat itu. Sejak itu saya menjadi imam besar di Islamic Center di New York,” ungkapnya.

Imam Shamsi Ali berharap pemerintah Indonesia turut ambil bagian dalam pembangunan pesantren Nur Inka Nusantara Madani di Connecticut ini agar pesantren ini menjadi kontribusi dan kebanggaan bangsa Indonesia
Area lampiran.

Sebagian  Wartakotalive berjudul “Prabowo Bakal Rayakan Lebaran di Indonesia, Sandiaga Uno di Amerika Serikat” dan “Sosok Pendukung Prabowo Bangun Pesantren Khas Indonesia Pertama dan Terbesar di Amerika Serikat” ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!