Pemimpin yang Adil Harus Memperhatikan Rakyatnya dan Melindungi Haknya

oleh

Oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat, guru besar UIN Syarif Hidayatullah

ALQURAN sangat menekankan agar umat Islam menegakkan keadilan.

Berbuat keadilan itu sangat dekat dengan derajat ketaqwaan.

Janganlah karena perasaan subyektivitas, terutama kebencian, lalu menghalangi seseorang berbuat adil. (Quran 5:8).

Adil yaitu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Wadhu syaiin fi mahalihi.

Dalam konteks kepemimpinan, berbuat adil artinya memberikan dan melindungi hak seseorang yang memang menjadi haknya.

Merusak keadilan berarti merampas hak orang lain. Dan itu suatu kezaliman.

Bagaimana rasanya dizalimi, mereka yang hak-haknya dirampas akan sangat memahami dan menghayati.

Perasaan dizalimi ini akan melahirkan kekuatan dan dorongan untuk melawan.

Terlebih jika itu menimpa sekelompok masyarakat atau bangsa, akan muncul kekuatan berlipat ganda dan tahan lama, karena yang satu akan memperkuat yang lain sehingga menjadi gerakan organik, seperti perjuangan rakyat Palestina. Atau perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Saking vitalnya prinsip keadilan dalam kehidupan sosial politik, terdapat pendapat ulama mengatakan pemerintahan yang adil akan mampu bertahan sekalipun tidak beragama (sekuler).

Sebaliknya, sekalipun beragama, tetapi jika prinsip keadilan sosial tidak ditegakkan, maka sebuah pemerintahan akan mudah roboh.

Rakyatnya akan melakukan pembangkangan sosial (social disobedience) atau bahkan berontak.

Mungkin teori ini menarik untuk melihat kekacauan yang terjadi di Timur Tengah yang mayoritas pemimpin maupun rakyatnya sama-sama beragama (Islam) namun saling berbaku hantam, baik sesama warga negaranya maupun dengan negara tetangganya.

Dalam Alquran terdapat tiga kata konseptual tentang keadilan ini, yaitu al-‘adl, al-qisth, al-mizan.

Jagad semesta ini berjalan dan bertahan karena adanya prinsip keadilan dan keseimbangan.

Bangunan yang tegak kokoh menjulang tinggi juga dibangun berdasarkan prinsip keseimbangan.

Kita bisa berdiri dan berjalan juga karena tubuh kita seimbang, berlaku prinsip keadilan.

Kesehatan tubuh juga dirawat berdasarkan kaidah keadilan dan keseimbangan. Maka janganlah kamu rusak prinsip keseimbangan itu. La tukhsirul mizan (Qur’an 55:9).

Jadi, timbangan dagangan di pasar yang tampaknya kecil, timbangan itu bekerja sebagai bagian dari timbangan kosmik yang berlaku di jagad semesta.

Keadilan, keseimbangan, keharmonisan merupakan prinsip tiga serangkai yang menyangga kehidupan semesta ini.

Lalu, apa beda antara keadilan dan kebaikan?

Kalau keadilan itu memberikan dan menjaga hak seseorang yang memang miliknya, sedangkan kebaikan (ihsan) itu mengeluarkan sesuatu dari yang kita miliki untuk orang lain secara tulus dan memberi manfaat bagi penerimanya.

Berbuat baik artinya mengeluarkan dan memberikan kebaikan dari diri kita untuk orang lain.

Jika keadilan dan kebaikan ini menjadi sifat seorang pemimpin lalu diwujudkan dalam kebijakan politiknya, pasti anak buah dan rakyat akan respek dan mencintainya.

Rakyat akan membela dan rela berkorban untuk pemimpinnya karena tahu dan yakin yang dilakukan adalah untuk kebaikan masyarakat luas, bukan untuk dirinya.

Dengan demikian prinsip keadilan dan kebaikan akan menjadi sumber kekuatan bagi tegaknya sebuah pemerintahan. (*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!