Selama Bulan April 2019 Tidak Ada Pemesanan Pesawat Boeing

oleh

Sebelumnya Boeing melaporkan masih ada beberapa pesanan jet pada akhir Maret.

Kalangan maskapai menahan diri untuk menentukan apakah Boeing akan menurunkan harga akibat masalah yang menimpa 737 Max.

WARTA KOTA, PALMERAH—- Selama bulan April, produsen pesawat Boeing Co tidak mendapat pesanan baru.

Tidak ada pemesanan itu tidak hanya terjadi pada Boeing 737 Max yang dikandangkan sejak Maret lalu.

Dilansir CNN, seperti dilansir Kontan, sejumlah pesawat jet Boeing lainnya, seperti 787 Dreamliner atau 777, juga tidak mendapatkan pesanan baru bulan lalu.

Sebelumnya Boeing melaporkan masih ada beberapa pesanan jet pada akhir Maret.

Di antaranya dari Lufthansa yang memesan 20 pesawat 787, dan British Airways yang memesan 18 unit Boeing 777X.

Sejauh ini, tak ada laporan gangguang dari berbagai maskapai terhadap pesawat buatan Boeing selain dari 737 Max.

“Tapi masalah 737 Max bisa jadi alasan maskapai menahan pesanan untuk jet lain,” kata Philip Baggaley, analis untuk sektor transportasi untuk Standard & Poor’s.

Baggaley menilai kalangan maskapai menahan diri untuk menentukan apakah Boeing akan menurunkan harga akibat masalah yang menimpa 737 Max.

“Mungkin maskapai bisa mendapat harga yang lebih murah di masa depan,” katanya.

Eksekutif dari beberapa maskapai, termasuk Norwegian Air dan United Airlines (UAL), mengatakan, mereka berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Boeing mengenai beberapa bentuk kompensasi sebagai akibat dari dikandangkannya pesawat 737 Max yang mereka miliki.

Namun di kasus 737 Max, analis dari Grup Teal, Richard Aboulafia, menilai industri pesawat di awal tahun ini memang sedang loyo.

Pasalnya kinerja kompetitor utama Boeing yakni Airbus juga melempem.

Sementara itu, beberapa waktu lalu investigasi paralel desain pesawat pabrikan Boeing 737 Max sudah dijalankan oleh Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Seperti dikutip dari Bloomberg yang dilansir Kompas.com, Rabu (8/5/2019), mereka menyatakan, izin terbang pesawat jenis tersebut tidak akan diberikan hingga investigasi terhadap desain tersebut rampung.

“Penyelesaian investigasi desain pesawat secara independen oleh EASA merupakan syarat bagi EASA agar pesawat jenis tersebut bisa kembali beroperasi,” ujar juru bicara EASA dalam keterangan tertulis.

Keputusan untuk melakukan investigasi tersendiri adalah hal biasa bagi regulator Eropa.

Akan tetapi hal ini menunjukkan adanya ketidakpercayaan di antara dua badan keselamatan terpenting di dunia.

Ketidakpercayaan muncul sebagai respon dari pernyataan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat terkait kecelakaan penerbangan Ethiopian Airlines dengan pesawat Boeing 737 Max.

EASA mengeluarkan instruksi kepada maskapai untuk mengandangkan pesawat lebih dahulu dari FAA, hal ini melanggar konvensi yang sebelumnya pernah dibuat.

“Status FAA sebagai pemimpin global yang tidak bisa dibantah berada dalam risiko,” ujar seorang analis di Melius Research Carter Copeland.

EASA telah menegaskan postur yang kuat dan independen meskipun ada tekanan dari operator Max di Eropa.

“Namun EASA bergerak perlahan untuk melakukan sertifikasi ulang terhadap Max,” katanya.

Adapun FAA saat ini tengah melakukan peninjauan teknis bersama dengan otoritas lain, Joint Authorities technical Review/JATR.

Peninjauan teknis bersama ini terdiri dari delapan negara termasuk EASA, mengenai sertifikasi penerbangan dari Boeing 737 Max.

Waktu peninjauan tersebut diperkirakan akan memakan waktu tiga bulan dengan pertemuan awal yang diadakan di Seattle pekan lalu.

FAA pun telah mengumumkan akan dilaksanakannya pertemuan puncak dengan otoritas penerbangan di akhir bulan ini untuk membahas analisis keselamatan FAA terhadap armada pesawat tersebut.

Dalam pertemuan puncak dengan otoritas penerbangan, FAA disebut akan mengumumkan keputusan mengenai kemungkinan Max bisa kembali beroperasi.

“EASA berpartisipasi dalam tinjauan JATR yang sedang berlangsung, bersamaan dengan tinjauan desain independen yang dilakukan EASA, dengan berbagai tim ahli yang terlibat,” kata juru bicara EASA.

Sebagai catatan, seluruh pesawat pabrikan Boeing jenis 737 Max telah dikandangkan sejak Maret 2019.

Hal itu dilakukan setelah kecelakaan yang terjadi pada Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 awak pesawat dan penumpang.

Sementara lima bulan sebelumnya, sebanyak 189 orang tewas pada kecelakaan yang melibatkan jenis pesawat serupa milik maskapai Lion Air.

Berita ini sudah diunggah di Uri.co.id Boeing tak dapat satupun pesanan pesawat baru di bulan lalu ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!