Sidang Kasus Pemalsuan di Tangerang, Saksi Banyak Bilang Lupa | Jakarta Uri.co.id

Jakarta Uri.co.id

Menu

Sidang Kasus Pemalsuan di Tangerang, Saksi Banyak Bilang Lupa

Sidang Kasus Pemalsuan di Tangerang, Saksi Banyak Bilang Lupa
Foto Sidang Kasus Pemalsuan di Tangerang, Saksi Banyak Bilang Lupa

WARTA KOTA, TANGERANG – Sidang kasus pemalsuan Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (27/9/2017). Dalam perkara penipuan beragendakan keterangan saksi.

Saksi yang dihadirkan yakni Elza Gazali. Ia merupakan notaris yang membuat Akta tersebut.

Elza kerap menjawab lupa pada saat persidangan itu. Dirinya menyebut tak hafal betul saat ditanyai mengenai awal pembuatan Akta dalam kasus ini.

Seperti diberitakan Warta Kota sebelumnya, perkara itu bermula ketika Sukarti bekerja sama dengan Yusuf Ngadiman dan ayah Suryadi Wongso yaitu Salim Wongso dengan menyertakan modal senilai Rp. 8,15 miliar pada tahun 1999. Modal tersebut digunakan untuk membeli tanah seluas 45 hektar di Desa Salembaran Jati, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Sukarti kemudian dijadikan pemegang saham pada PT Salembaran Jati Mulya dengan mendapatkan saham sebesar 30 persen. Sedangkan Ngadiman dan Salim menerima 35 persen per orang.

Kepemilikan saham tercantum pada Akta Notaris Elza Gazali nomor 11 tertanggal 8 Februari 1999. Namun selama kerja sama berjalan, Sukarti tidak pernah dibagi keuntungan.

Bahkan Sukarti tidak mengetahui saat Salim Wongso meninggal dunia mewariskan sahamnya kepada putranya Suryadi Wongso pada tahun 2001. Pada 2008 Sukarti yang menerima informasi bahwa Ngadiman dan Suryadi Wongso telah menjual aset PT Salembaran Jati Mulya.

Akhirnya merasa tertipu, korban melaporkan perkara ini ke Bareskrim Mabes Polri. Dan saat ini Ngadiman serta Suryadi menjadi terdakwa duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Tangerang.

“Waktu bikin Akta memang tidak diikut sertakan pak Sukarti,” ujar Elza dalam persidangan tersebut pada Rabu (27/9/2017).

Namun ketika dicecar pertanyaan oleh Jaksa Penuntut Umum dan Majelis Hakim, saksi sukar untuk menjawab. Elza mengungkapkan bahwa dirinya lupa, terkait alasan ketidak hadiran Sukarti.

“Harusnya ya memang pak Sukarti hadir dalam pembuatan Akta,” ucapnya.

Saksi diminta untuk membuat Akta itu oleh terdakwa. Kendati demikian Elza tidak bisa menceritakan secara detail proses pembuatan Akta ini lantaran sudah terlampau lama terjadi.

“Biasanya kalau tidak hadir ya ada panggilan kedua. Bahkan hingga panggilan ketiga agar memenuhi forum untuk pembuatannya dalam pihak – pihak yang bersangkutan,” kata Elza. (dik) (uri/usnizar/emi/ahfi/YDK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Jakarta Uri.co.id